
Setelah kita menelusuri kekayaan makna pada abjad sebelumnya, kini saatnya kita membedah filosofi yang tersirat dalam peribahasa abjad D. Dalam literatur Nusantara, abjad ini sering kali menjadi pintu masuk bagi nasihat-nasihat tentang harga diri, keteguhan prinsip, dan etika dalam pergaulan. Oleh karena itu, memahami kumpulan peribahasa ini sangatlah penting untuk memperhalus budi pekerti kita.
Meskipun zaman terus berkembang, namun nilai-nilai yang terkandung dalam huruf D tetap relevan. Hal ini dikarenakan peribahasa tersebut menggunakan analogi yang dekat dengan kehidupan manusia, seperti Darah, Daging, Dapur, hingga Durian. Selanjutnya, mari kita pelajari daftar lengkapnya di bawah ini.

Berikut ini adalah tabel peribahasa pilihan yang dimulai dengan huruf D. Selain menyajikan arti secara harfiah, tabel ini juga menjelaskan makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
| No | Peribahasa | Makna |
|---|---|---|
| 1 | Dalam berselimut api | Seseorang yang hidup dalam bahaya besar tanpa disadari |
| 2 | Dalam genggaman | Sesuatu yang sudah pasti dikuasai atau dimiliki sepenuhnya |
| 3 | Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu | Perasaan atau niat seseorang sangat sulit untuk ditebak |
| 4 | Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberang | Seseorang yang sudah sangat dikenal sifat, tabiat, maupun kemampuannya |
| 5 | Dalam tempurung | Memiliki wawasan yang sempit karena kurang pergaulan (seperti katak) |
| 6 | Dapat durian runtuh | Mendapat rezeki atau keberuntungan besar yang tidak terduga |
| 7 | Darah daging | Anak kandung sendiri atau kerabat yang sangat dekat hubungannya |
| 8 | Dari kecil teranja-anja, sudah besar terbawa-bawa | Kebiasaan buruk yang dibiarkan sejak kecil akan sulit diubah saat dewasa |
| 9 | Dari semak ke belukar | Berpindah dari tempat yang buruk ke tempat yang sama buruknya |
| 10 | Dari telaga yang jernih tidak akan mengalir air yang keruh | Seseorang yang baik hatinya akan melahirkan keturunan atau perbuatan yang baik pula |
| 11 | Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang | Lebih baik mati berjuang daripada hidup menanggung malu atau kehinaan |
| 12 | Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri | Sesenang apa pun di negeri orang, lebih baik hidup di tanah air sendiri |
| 13 | Datang bulan, hilanglah bintang | Kekuasaan atau kehebatan seseorang hilang setelah muncul yang lebih hebat |
| 14 | Datang membawa berkat, pulang membawa rahmat | Kehadiran seseorang yang selalu memberikan kebaikan bagi sekelilingnya |
| 15 | Datang tampak muka, pulang tampak punggung | Harus bersikap sopan saat datang maupun saat berpamitan pergi |
| 16 | Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar | Seseorang yang kehadirannya tidak dihargai atau dianggap tidak penting |
| 17 | Daun dapat dilayangkan, getah jatuh ke perdu juga | Setiap rahasia atau harta pada akhirnya akan kembali ke keluarganya juga |
| 18 | Deras datang, deras kena | Pekerjaan yang terlalu terburu-buru biasanya cepat mendatangkan kesalahan |
| 19 | Di air yang tenang jangan disangka tiada buaya | Orang yang pendiam jangan dianggap remeh, karena bisa sangat berbahaya |
| 20 | Di antara dua pilihan | Berada dalam keadaan dilema atau situasi yang serba sulit |
| 21 | Di atas langit masih ada langit | Jangan sombong, karena selalu ada orang yang lebih hebat dari kita |
| 22 | Di belakang parang pun kalau diasah tajam juga | Orang yang kurang pintar jika tekun belajar pasti akan menjadi ahli |
| 23 | Di mana ada asap, di situ ada api | Setiap kejadian pasti ada sebab atau alasan di baliknya |
| 24 | Di mana ada gula, di situ ada semut | Tempat yang menjanjikan keuntungan pasti akan didatangi banyak orang |
| 25 | Di mana ada kemauan, di situ ada jalan | Jika memiliki tekad yang kuat, pasti akan ditemukan cara untuk berhasil |
| 26 | Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung | Kita harus mematuhi adat istiadat tempat kita berada |
| 27 | Di tepi bibir saja | Hanya sekadar ucapan, tidak benar-benar tulus atau sungguh-sungguh |
| 28 | Di ujung tanduk | Keadaan yang sangat kritis, genting, atau dalam bahaya besar |
| 29 | Diam itu emas | Diam lebih baik daripada bicara jika tidak memberikan manfaat |
| 30 | Diam-diam menghanyutkan | Orang yang pendiam namun berilmu tinggi atau memiliki niat berbahaya |
| 31 | Diam-diam ubi berisi | Orang pendiam yang sebenarnya sangat berilmu atau banyak hasil karyanya |
| 32 | Diberi betis hendak paha | Seseorang yang tidak pernah puas dengan pemberian yang diterimanya |
| 33 | Didengar gemuruh di langit, air tempayan dicurahkan | Melepas apa yang sudah dimiliki karena mengharap keuntungan besar yang belum pasti |
| 34 | Dikit-dikit lama-lama menjadi bukit | Sesuatu yang sedikit jika dikumpulkan terus-menerus akan menjadi banyak |
| 35 | Duduk beramai-ramai, tegak bercerai-berai | Hanya mau bersama saat senang, namun berpisah saat harus bekerja keras |
| 36 | Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi | Dua pihak yang memiliki derajat atau martabat yang setara |
| 37 | Dunia tak selebar daun kelor | Dunia ini luas, jangan mudah berputus asa jika mengalami kegagalan |
| 38 | Duri dalam daging | Sesuatu yang terus-menerus mengganggu ketenangan hati atau pikiran |
Jika kita perhatikan secara saksama, peribahasa abjad D banyak berbicara tentang kesetiaan dan jati diri. Sebagai contoh, peribahasa “Darah lebih kental daripada air” secara tegas mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ikatan keluarga di atas segalanya. Selain itu, peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” merupakan fondasi etika sosial yang sangat luar biasa bagi siapa pun yang hidup merantau.
Oleh karena itu, penggunaan peribahasa ini dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya untuk mempercantik gaya bahasa. Lebih dari itu, tujuannya adalah sebagai pengingat agar kita tetap membumi dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Jadi, meskipun dunia semakin modern, nasihat kuno ini tetap menjadi pedoman yang akurat.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kumpulan peribahasa berawalan abjad D membawa pesan kuat tentang identitas dan tata krama. Mulai dari urusan syukur atas rezeki hingga cara bersikap di negeri orang, semuanya telah dirangkum dengan sangat apik. Oleh sebab itu, melestarikan peribahasa ini adalah langkah nyata dalam menjaga kekayaan intelektual bangsa.
Dengan memahami makna peribahasa ini, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih bijak, rendah hati, dan penuh pertimbangan dalam setiap tindakan.
Peribahasa Abjad D adalah kumpulan peribahasa dalam bahasa Indonesia/Melayu yang diawali huruf D, seperti “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” dan “Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu”.
Beberapa contoh yang terkenal antara lain “Dikit-dikit lama-lama menjadi bukit”, “Diam-diam ubi berisi”, dan “Di atas langit masih ada langit”.
Artinya kita harus menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat, budaya, dan aturan di tempat kita berada.
Kata “Di” sering digunakan untuk menunjukkan tempat atau kondisi, sehingga cocok untuk menggambarkan situasi dalam bentuk peribahasa.
Peribahasa digunakan untuk menyampaikan nasihat, pengalaman hidup, dan nilai moral dengan cara yang lebih halus dan mudah dipahami.
Tidak. Beberapa seperti “di ujung tanduk” atau “duri dalam daging” sering dianggap peribahasa, tetapi sebenarnya termasuk ungkapan kiasan.
Peribahasa biasanya berupa kalimat lengkap yang mengandung nasihat, sedangkan ungkapan lebih pendek dan digunakan sebagai bagian dari kalimat.
Peribahasa asli mencerminkan budaya, kebijaksanaan, dan nilai tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sangat relevan, karena nilai-nilai seperti kerja keras, kesopanan, dan kebijaksanaan tetap dibutuhkan dalam kehidupan modern.
Pahami maknanya terlebih dahulu, lalu gunakan sesuai konteks agar pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat dan bermakna.
Tinggalkan Balasan