
Setelah mengeksplorasi deretan kearifan pada abjad A, kini kita beralih ke peribahasa abjad B. Dalam khazanah sastra Nusantara, huruf B merupakan salah satu kategori yang paling kaya akan tamsil atau perumpamaan. Banyak peribahasa di kategori ini menggunakan simbol-simbol yang kuat seperti Batu, Bunga, Burung, hingga Bangkai.
Secara filosofis, peribahasa berawalan B sering kali menekankan pada aspek keteguhan hati, konsekuensi dari perbuatan, serta cara kita memandang kehormatan diri. Mempelajari daftar ini bukan hanya memperkaya literasi, tetapi juga memberikan kompas moral dalam berinteraksi di tengah masyarakat.

Tabel di bawah ini merangkum kumpulan peribahasa yang dimulai dengan huruf B, disusun secara sistematis untuk memudahkan Anda memahami makna di balik setiap kiasan.
| No | Peribahasa | Makna |
|---|---|---|
| 1 | Badai pasti berlalu | Segala kesulitan pasti akan berakhir |
| 2 | Bagai air dengan minyak | Dua orang yang tidak pernah bisa rukun atau bersatu |
| 3 | Bagai air di daun talas | Tidak tetap pendirian atau selalu berubah-ubah |
| 4 | Bagai anak ayam kehilangan induk | Sekelompok orang yang bingung karena kehilangan pemimpin |
| 5 | Bagai anjing dengan kucing | Dua orang yang selalu bertengkar jika bertemu |
| 6 | Bagai api dalam sekam | Bahaya atau permusuhan yang tersembunyi secara diam-diam |
| 7 | Bagai api dengan asap | Dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain |
| 8 | Bagai aur dengan tebing | Hubungan yang sangat erat dan saling tolong-menolong |
| 9 | Bagai bertemu ruas dengan buku | Dua hal yang sangat cocok atau pas sekali |
| 10 | Bagai bulan jatuh ke riba | Mendapat rezeki besar yang tidak disangka-sangka |
| 11 | Bagai bumi dengan langit | Perbedaan kedudukan atau sifat yang sangat jauh/mencolok |
| 12 | Bagai duri dalam daging | Sesuatu yang selalu mengganggu ketenangan hati atau pikiran |
| 13 | Bagai embun di ujung rumput | Sesuatu yang rapuh atau tidak bertahan lama |
| 14 | Bagai enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing | Mementingkan diri sendiri, tidak mau bekerja sama |
| 15 | Bagai gajah di pelupuk mata tidak tampak | Kesalahan sendiri yang besar tidak disadari |
| 16 | Bagai harimau menyembunyikan kuku | Orang berilmu/kuat yang menyembunyikan kelebihannya |
| 17 | Bagai hujan jatuh ke pasir | Kebaikan atau nasihat yang tidak memberi bekas/hasil |
| 18 | Bagai kaca terhempas ke batu | Hati yang hancur berkeping-keping karena sangat kecewa |
| 19 | Bagai kacang lupa kulitnya | Lupa akan asal-usul atau jasa orang yang pernah menolongnya |
| 20 | Bagai katak dalam tempurung | Memiliki wawasan sempit karena kurang pergaulan |
| 21 | Bagai kera mendapat bunga | Seseorang yang mendapat sesuatu yang bagus tapi tidak tahu cara menghargainya |
| 22 | Bagai kerbau dicocok hidung | Orang yang selalu menurut kemauan orang lain tanpa membantah |
| 23 | Bagai layang-layang putus tali | Kehilangan pegangan hidup atau tidak tentu arah |
| 24 | Bagai makan buah simalakama | Kondisi serba salah dalam mengambil keputusan |
| 25 | Bagai menarik rambut dalam tepung | Menyelesaikan masalah pelik dengan sangat hati-hati agar tidak ada yang tersakiti |
| 26 | Bagai menabur garam ke laut | Melakukan pemberian atau perbuatan yang sia-sia |
| 27 | Bagai menatang minyak yang penuh | Mendidik atau menjaga seseorang dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang |
| 28 | Bagai mencencang air | Melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tidak ada hasilnya |
| 29 | Bagai mencurahkan air ke daun keladi | Nasihat yang tidak pernah didengar atau tidak berbekas |
| 30 | Bagai mendapat durian runtuh | Mendapat keberuntungan besar secara tiba-tiba |
| 31 | Bagai menegakkan benang basah | Melakukan pekerjaan yang mustahil untuk berhasil |
| 32 | Bagai mengail di air keruh | Mencari keuntungan pribadi di tengah kekacauan orang lain |
| 33 | Bagai menggarami air laut | Memberi sesuatu kepada orang yang sudah sangat kaya/berkecukupan |
| 34 | Bagai menunggu buah jatuh | Hanya mengharap keberuntungan tanpa mau berusaha |
| 35 | Bagai musang berbulu ayam | Orang jahat yang menyamar menjadi orang baik untuk menipu |
| 36 | Bagai pagar makan tanaman | Orang yang dipercaya menjaga sesuatu malah merusaknya sendiri |
| 37 | Bagai panas setahun dihapus hujan sehari | Kebaikan yang banyak hilang karena satu kesalahan kecil |
| 38 | Bagai pedang bermata dua | Sesuatu yang bisa menguntungkan sekaligus bisa merugikan |
| 39 | Bagai pinang dibelah dua | Dua orang yang wajah atau sifatnya sangat mirip atau serasi |
| 40 | Bagai pungguk merindukan bulan | Mengharapkan sesuatu yang sangat tidak mungkin tercapai |
| 41 | Bagai semut dengan gula | Orang yang datang berkumpul karena adanya keuntungan atau kesenangan |
| 42 | Bagai siang dengan malam | Perbedaan yang sangat jauh atau berlawanan |
| 43 | Bagai si buta kehilangan tongkat | Kehilangan pegangan hidup atau pelindung sehingga kebingungan |
| 44 | Bagai si kudung mendapat cincin | Mendapat barang bagus namun tidak bisa menggunakannya dengan baik |
| 45 | Bagai telur di ujung tanduk | Kondisi yang sangat kritis dan berbahaya |
| 46 | Bagai tikus jatuh ke beras | Mendapat kemakmuran atau keberuntungan yang besar sekali |
| 47 | Bahasa menunjukkan bangsa | Budaya dan asal-usul seseorang terlihat dari cara bicaranya |
| 48 | Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian | Bersakit-sakit dahulu untuk mendapatkan kesuksesan kemudian |
| 49 | Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing | Pekerjaan atau masalah yang ditanggung bersama secara adil |
| 50 | Besar pasak daripada tiang | Pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan |
Peribahasa yang dimulai dengan kata “Bagai” atau “Bak” mendominasi abjad ini. Hal ini menunjukkan kecenderungan masyarakat kita dalam menggunakan metafora alam untuk memberikan nasihat. Simbol-simbol seperti Air, Api, dan Tanah digunakan untuk menggambarkan sifat manusia secara objektif namun tetap santun.
Dalam dunia kepemimpinan, peribahasa seperti “Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah” adalah prinsip komunikasi yang sangat relevan hingga saat ini. Di tengah gempuran informasi digital, pesan untuk menjaga ucapan menjadi pengingat agar kita tetap memiliki etika dan integritas.
Koleksi peribahasa berawalan abjad B memberikan pelajaran berharga tentang realitas kehidupan. Dari prinsip kerja sama (gotong royong) hingga peringatan tentang sifat boros, semuanya tersaji dalam struktur kalimat yang puitis namun tajam. Memahami peribahasa ini membantu kita untuk lebih peka terhadap norma-norma sosial dan memperkaya kecerdasan emosional dalam pergaulan sehari-hari.
Menjaga warisan tutur ini berarti menjaga jati diri bangsa agar tidak luntur oleh perubahan zaman.
Peribahasa Abjad B adalah kumpulan peribahasa dalam bahasa Indonesia/Melayu yang diawali huruf B, seperti “Bagai air di daun talas” atau “Bagai pinang dibelah dua”.
Kata “bagai” digunakan untuk membuat perbandingan atau perumpamaan. Ini adalah ciri khas peribahasa Melayu klasik yang menyampaikan makna melalui analogi kehidupan sehari-hari.
Tidak semuanya. Hanya ungkapan yang telah dikenal secara turun-temurun dan memiliki makna kiasan yang kuat yang termasuk peribahasa asli.
Peribahasa digunakan untuk menyampaikan nasihat, sindiran, atau gambaran situasi secara halus dan bermakna tanpa harus berbicara secara langsung.
Contohnya seperti “Bagai katak dalam tempurung”, “Bagai pungguk merindukan bulan”, dan “Bagai telur di ujung tanduk”.
Perumpamaan dengan kata “bagai” merupakan bagian dari peribahasa. Peribahasa mencakup lebih luas, termasuk pepatah dan ungkapan, sedangkan “bagai” biasanya menunjukkan bentuk perbandingan.
Karena banyak peribahasa Melayu klasik menggunakan struktur perbandingan dengan kata “bagai”, sehingga jumlahnya lebih banyak dibanding huruf lain.
Ya, sangat relevan. Peribahasa mengandung nilai moral, kebijaksanaan, dan pengalaman hidup yang tetap berlaku hingga saat ini.
Gunakan sesuai konteks dan pahami maknanya. Peribahasa yang tepat dapat membuat komunikasi menjadi lebih kuat, halus, dan berkesan.
Peribahasa asli biasanya tercatat dalam kamus peribahasa, buku pelajaran, atau literatur Melayu klasik. Hindari menggunakan kalimat modern yang hanya menyerupai peribahasa.
Tinggalkan Balasan