
Setelah mendalami filosofi pada huruf A dan B, kini kita memasuki kategori peribahasa abjad C. Dalam tradisi lisan Nusantara, huruf C sering kali menjadi pembuka bagi kata-kata yang melambangkan tindakan, ketelitian, dan pengamatan terhadap detail kecil, seperti kata Cacing, Cepat, Campur, hingga Cermin.
Peribahasa yang dimulai dengan huruf C banyak memberikan nasihat tentang cara bersikap dalam pergaulan, pentingnya kewaspadaan, serta bagaimana seseorang harus menilai diri sendiri sebelum menghakimi orang lain. Koleksi ini sangat relevan sebagai cermin diri di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat.

Tabel berikut menyajikan kumpulan peribahasa pilihan berawalan huruf C, lengkap dengan penjelasan maknanya untuk memperkaya wawasan Anda.
| No | Peribahasa | Makna |
|---|---|---|
| 1 | Cabut nyawa | Menghilangkan kehidupan seseorang |
| 2 | Cacing di perut pun tahu | Sesuatu yang sudah sangat jelas diketahui oleh orang banyak |
| 3 | Cacing hendak menjadi naga | Orang kecil yang ingin menjadi orang besar tanpa memiliki kemampuan |
| 4 | Cacing kepanasan | Seseorang yang merasa sangat gelisah atau tidak tenang tingkah lakunya |
| 5 | Cakap berdegar-degar, tumit di lulur babi | Banyak bicara namun kenyataannya penakut atau tidak ada bukti |
| 6 | Cakar ayam | Tulisan tangan yang sangat buruk dan sulit untuk dibaca |
| 7 | Campur tangan | Turut campur dalam urusan atau masalah yang dihadapi orang lain |
| 8 | Cara bulat datang bergolek, cara pipih datang melayang | Mendapatkan keuntungan atau rezeki dari berbagai jalan tanpa diduga |
| 9 | Cari akal | Berusaha mencari jalan keluar atau solusi dari suatu masalah |
| 10 | Cari muka | Berbuat sesuatu dengan maksud mendapatkan pujian atau perhatian dari atasan |
| 11 | Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga | Perselisihan dalam keluarga atau persaudaraan yang akhirnya akan rukun kembali |
| 12 | Cawan pecah, piring pun retak | Kerusakan kecil yang berakibat pada kehancuran yang lebih luas |
| 13 | Cekur jerangau ada lagi di ubun-ubun | Masih sangat muda dan dianggap belum berpengalaman dalam hidup |
| 14 | Celah tidak berangin | Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika tidak ada sebabnya |
| 15 | Cepat kaki ringan tangan | Seseorang yang tangkas, rajin, dan suka menolong orang lain |
| 16 | Cerdik seperti kancil | Seseorang yang sangat pintar dan penuh tipu daya untuk menyelamatkan diri |
| 17 | Cermin bagi diri sendiri | Menjadikan sesuatu sebagai teladan atau bahan koreksi bagi diri sendiri |
| 18 | Cicak jatuh ke tanah | Mengalami nasib sial atau jatuh namun tidak sampai cedera parah |
| 19 | Cincang air tak putus | Perselisihan antar bersaudara yang tidak mungkin memutuskan hubungan darah |
| 20 | Cincin emas takkan luntur | Kebaikan atau jati diri orang mulia tidak akan hilang meski dalam keadaan sulit |
| 21 | Condong yang akan menimpa | Mendapatkan kemalangan atau musibah yang tanda-tandanya sudah terlihat |
| 22 | Cubalah paha sendiri, kalau sakit paha orang lain pun sakit juga | Sebelum menyakiti orang lain, bayangkan jika hal itu terjadi pada diri sendiri |
| 23 | Cubit paha kanan, paha kiri terasa juga | Jika salah satu anggota keluarga menderita, yang lain pun ikut merasakannya |
| 24 | Cuci tangan | Tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan atau masalah yang telah terjadi |
| 25 | Cukup makan dan pakai | Keadaan hidup yang sejahtera, makmur, dan serba berkecukupan |
| 26 | Curah hujan sama rata, bumi juga yang menerima | Setiap keputusan atau anugerah yang berlaku secara adil bagi semua orang |
| 27 | Curah kasih tidak bertepi | Kasih sayang yang diberikan secara tulus dan tanpa ada batasnya |
| 28 | Curam bagai tebing | Menghadapi suatu tantangan atau keadaan yang sangat sulit dan berbahaya |
| 29 | Curiga membawa celaka | Rasa tidak percaya yang berlebihan terhadap orang lain dapat merugikan diri sendiri |
Salah satu karakteristik unik dari peribahasa abjad C adalah penggunaan analogi anggota tubuh dan hewan melata. Penggunaan kata “Cacing” misalnya, secara cerdas digunakan untuk menggambarkan transformasi nasib manusia. Sementara itu, metafora “Cubit paha” mengajarkan kita tentang empati dan solidaritas sosial yang kuat.
Dalam perspektif etika kerja, peribahasa “Cepat kaki ringan tangan” tetap menjadi standar emas bagi karakter seseorang yang produktif dan memiliki nilai sosial tinggi. Ini membuktikan bahwa kearifan lokal kita sangat menghargai kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar.
Kumpulan peribahasa berawalan abjad C mengingatkan kita akan pentingnya integritas dan kepekaan sosial. Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya mengajak kita untuk tidak hanya mengejar kemajuan (cepat kaki), tetapi juga menjaga perdamaian keluarga (carik-carik bulu ayam) dan menjaga kehormatan diri.
Menghayati peribahasa-peribahasa ini adalah langkah bijak untuk memperhalus budi pekerti dan memperkuat jati diri sebagai pribadi yang berbudaya di tengah arus globalisasi.
Peribahasa Abjad C adalah kumpulan peribahasa dalam bahasa Indonesia/Melayu yang diawali huruf C, seperti “Cubit paha kanan, paha kiri terasa juga” atau “Cara bulat datang bergolek, cara pipih datang melayang”.
Karena tidak banyak peribahasa tradisional yang diawali huruf C. Peribahasa berasal dari budaya lisan lama, sehingga jumlahnya terbatas dan tidak bisa dibuat secara bebas.
Beberapa yang terkenal antara lain “Cubit paha kanan, paha kiri terasa juga” dan “Cara bulat datang bergolek, cara pipih datang melayang”.
Artinya adalah jika seseorang dalam satu kelompok atau keluarga mengalami kesusahan, maka yang lain juga akan ikut merasakannya.
Peribahasa digunakan untuk menyampaikan nasihat, sindiran, atau pelajaran hidup dengan cara yang lebih halus dan bermakna.
Tidak. Banyak ungkapan seperti “cuci tangan” atau “cari muka” termasuk ungkapan, bukan peribahasa murni.
Peribahasa adalah kalimat lengkap yang mengandung makna kiasan dan nasihat, sedangkan ungkapan biasanya berupa frasa pendek yang memiliki arti khusus.
Meskipun jumlahnya tidak banyak, peribahasa Abjad C tetap mengandung nilai moral dan budaya yang penting untuk dipahami dan dilestarikan.
Ya, peribahasa masih sering digunakan dalam pendidikan, tulisan, pidato, dan konten digital untuk memperkuat pesan.
Pahami maknanya terlebih dahulu, lalu gunakan sesuai konteks agar pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat dan tepat sasaran.
Tinggalkan Balasan